Apakah benar kenakalan remaja itu tergantung dari orang tuanya?

October 22, 2009 41215c4l177


Saat ini sudah banyak kasus, bahwa ketidakhadiran orang tua selama waktu yang

agak lama telah menjadi penyebab utama pendidikan anak berantakan dan morat-marit.

Belum lagi masalah keagamaan dan nilai-nilai moral yang seharusnya dianut anak juga

semakin kabur, sehingga sikap “menghalalkan” segala cara untuk memperoleh kesenangan

menjadi kecenderungan yang dipilih. Kehadiran orang tua yang “sesaat” yang mestinya

dapat dimanfaatkan untuk memberi perhatian dan kasih sayang, namun tak urung sering

digunakan untuk membentak-bentak dan memarahi anak yang membuatnya frustasi,

ketakutan yang amat sangat, perasaan rendah diri, tak berguna dan sebagainya. Akibatnya

anak merasa tak terlindungi, merasa sendiri dan terasing (alienasi). Hal inilah yang menjadi

penyebab utama anak-anak/remaja keluar rumah mencari “pelarian” dengan cara begadang

di jalanan, mulai akrab dengan minuman keras/mabuk-mabukan, memakai narkoba, seks bebas, dan

kekerasan. Kalau sudah begini, kita bisa merenung apalah artinya harta yang melimpah

jika anak-anak berantakan. Anak yang seharusnya dapat “mikul dhuwur mendhem jero”

ternyata hanya dapat mendhem jeronya saja yang berarti menenggelamkan orang tua ke

dalam lembah kehinaan dan penderitaan. Ini tidak dapat dibiarkan terus, karena akan

menjadi penyakit akut yang mengganas di seluruh lingkungan masyarakat kita. Tidak

pandang bulu pada keluarga kita.

Kenakalan remaja sekarang memang telah membuat orang tua pusing tujuh

keliling. Sebab mengatasi kenakalan remaja pada saat ini dengan kekerasan sama halnya

menjadikan bumerang bagi orang tua itu sendiri. Bukan tidak mungkin kekerasan orang tua

akan dibalas anak dengan kekerasan pula. Bahkan lebih keji.

Tetapi untuk “menumpas” kenakalan remaja sampai ke akar-akarnya harus dimulai

dari keluarga. Keluarga harus menjadi tempat bernaung yang nyaman bagi anak.

Merupakan tempat yang baik untuk berkreasi dan berprestasi. Orang tua harus dapat

memberi ayoman di kala anak susah, tetapi juga dapat memberi batasan yang tegas kala

tindakan anak mulai menyimpang dari norma. Oleh sebab itu, benar juga apa yang

dikatakan Kung Futze, bahwa dalam membenahi kebobrokan remaja harus dimulai dengan

menegakkan wibawa keluarga. Tiap-tiap anggota keluarga mesti tahu terlebih dahulu akan

hak dan kewajibannya.

Namun dari kesemuanya itu, ada satu hal yang patut menjadi catatan bagi kita

bahwa upaya mengatasi kenakalan remaja harus dimulai dari pembenahan fungsi keluarga

agar sesuai dengan porsinya. Dan ini harus diawali dari pembenahan diri orang tua itu

sendiri. Sehingga “pitutur” apa yang dikatakan orang tua kepada anaknya memang betulbetul

dapat dilihat anak dengan mata kepala sendiri pada perilaku orang tuanya. Orang tua

harus mampu mmenjadi figur yang baik di mata anak-anak. Sebab hanya dengan cara itu

anak akan menghargai dan menghormati orang tuanya, yang nota bene akan merupakan

potensi besar orang tua untuk diakui keberadaannya secara wajar di mata anak sekaligus

sebagai orang tua yang patut dihormati dan dipatuhi perintah-perintahnya.

Entry Filed under: Tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

October 2009
M T W T F S S
    Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
 
%d bloggers like this: